Bahasa Indonesia

Faculty of Arts, University of Melbourne, bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL)Universitas Gadjah Mada (UGM) akan menyelenggarakan konferensi kedua dalam seri Australia-Indonesia in Conversation (AIC). Konferensi ini terdiri dari lima diskusi panel  yang diadakan selama dua hari bertema ‘Managing Environmental and Resource Challenges and Thinking about Climate Futures’. Acara ini akan berlangsung pada 20-21 Juli 2022.

UoM logo
UGM logo
AIIC logo

Latar belakang

Australia dan Indonesia telah lama menikmati hubungan bilateral yang kuat dan stabil sebagai tetangga dekat di wilayah Asia Pasifik, dengan banyak kepentingan politik, ekonomi, dan sosial yang sama. Sebagai negara kaya sumber daya, keduanya menghadapi tantangan terkait keberlanjutan, pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam, dan perencanaan untuk masa depan iklim. Kedua negara juga bergulat dalam merespons perubahan iklim dan pada saat yang sama membangun ketahanan iklim di masyarakat, kota dan wilayah, dan secara nasional. Meski begitu, banyak inovasi bermunculan untuk menjawab tantangan tersebut. University of Melbourne, bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, akan menyelenggarakan konferensi mini pada 20-21 Juli 2022, yang terdiri dari serangkaian diskusi panel untuk para akademisi, penyusun kebijakan dan praktisi di Australia dan Indonesia.

Konferensi Australia-Indonesia in Conversation berupaya untuk lebih meningkatkan kemitraan bilateral dan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan wawasan tentang upaya masing-masing negara untuk mengelola tantangan lingkungan dan sumber daya dan untuk melindungi Antroposen melalui berbagai kebijakan, tindakan, dan inovasi. Penyelenggara konferensi memiliki ikatan yang kuat dan sejarah kolaborasi yang berkelanjutan serta merupakan mitra di Australia-Indonesia Centre dan banyak inisiatif lainnya. Lima panel berurutan yang melibatkan diplomat kedua negara, peneliti dan perwakilan dari pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, serta tanya jawab dari audiens, akan diadakan secara daring selama dua hari.

Diskusi panel

Panel Pembuka

Australia-Indonesia in Conversation 2023: Mengelola Tantangan Lingkungan dan Sumber Daya dan Memikirkan Masa Depan Iklim


Dalam panel ini perwakilan senior dari kedua universitas dan pemerintah kedua negara akan berbagi keahlian dan wawasan tentang tantangan pengelolaan sumber daya lingkungan, inisiatif utama yang dilakukan, dan bagaimana penelitian tentang topik ini dimasukkan ke dalam tujuan kedua universitas.

Moderator

  • Profesor Kate McGregor (UoM)
  • Dr Poppy Winanti (UGM)

Pembicara

  • Ibu Penny Williams, Duta Besar Australia untuk Republik Indonesia
  • Bapak Dr Siswo Pramono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia
  • Profesor Ova Emilia, Rektor Universitas Gadjah Mada
  • Profesor Vedi Hadiz, Asisten Wakil Rektor Internasional sekaligus Direktur the Asia Institute, The University of Melbourne
  • Pendeta Profesor Russell Goulbourne,  Dekan Faculty of Arts, The University of Melbourne
  • Dr Wawan Mas’udi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada

Panel 2

Menanggapi Tantangan Energi dan Iklim Nasional dan Global: Kebijakan dan Inovasi

Dalam dunia yang kian mengglobal dan saling terhubung, kekayaan sumber daya alam yang beragam di Australia dan Indonesia berada di bawah tekanan yang meningkat untuk penggunaan yang bersaing, mulai dari sektor ekstraksi hingga pariwisata. Seiring bertambahnya populasi dan perubahan ekonomi di kedua negara tersebut, terdapat permintaan yang meningkat untuk bahan bakar fosil dan sumber energi terbarukan. Pertumbuhan kelas menengah di Asia dan wilayah lain juga mendorong permintaan konsumen dan konsekuensinya adalah perluasan agribisnis dan penggunaan sumber daya alam untuk pembangunan ekonomi global dan lokal, yang berimplikasi pada degradasi lahan dan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat di wilayah-wilayah tersebut. Bersamaan dengan hal tersebut, seiring dengan meningkatnya suhu bumi, kedua negara menghadapi tantangan masa depan yang signifikan dalam menanggapi cuaca ekstrem, perubahan pola curah hujan dan suhu, naiknya lautan, dan berbagai tantangan lainnya. Panel ini akan mendiskusikan kebijakan dan inovasi dari masing-masing negara dalam merespon tantangan energi dan iklim di tingkat nasional dan global.

Moderator

  • Dr Rachael Diprose (UoM)
  • Dr Fina Itriyati (UGM)

Pembicara

  • Profesor Jacqueline Peel, Direktur Melbourne Climate Futures dan pengajar di Melbourne Law School, The University of Melbourne
  • Profesor Jatna Supriatna, Kepala Research Centre for Climate Change (RCCC), Universitas Indonesia (UI) dan pengajar di Departemen Biologi, UI
  • Associate Professor Llewelyn Hughes, Crawford School of Public Policy, Australian National University (ANU) dan anggota Steering Committee dari Inisiatif Zero-Carbon Energy Asia Pasifik
  • Dr Sarjiya, Kepala Pusat Studi Energi (PSE) dan Center of Excellence (CoE) Energi Hijau, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pengajar di  Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM
  • Profesor Kathryn Bowen, Wakil Direktur Melbourne Climate Futures dan pengajar di Melbourne School of Population and Global Health, The University of Melbourne
  • Bapak Andri Akbar Marthen, Co-Founder dan Research Director, Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID)

Panel 3

Inklusi Sosial dan Pengetahuan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan dan Keberlanjutan

Komunitas, kelompok masyarakat adat, serta kelompok rentan seringkali terdampak oleh kerusakan lingkungan dan polusi yang disebabkan oleh ekstraksi sumber daya alam, agribisnis skala besar, polusi plastik, dan pengaruh perubahan iklim yang semakin meningkat, dengan kesempatan terbatas untuk memprotes atau mengajukan ganti rugi. Banyak masyarakat yang tinggal di dalam atau di sekitar kawasan hutan, atau di kawasan pesisir memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang bagaimana memanfaatkan dan melindungi lingkungan secara berkelanjutan. Sejumlah kelompok masyarakat telah menerapkan inovasi-inovasi yang signifikan untuk memperbaiki atau meningkatkan kondisi lingkungan, atau beradaptasi dengan tantangan. Lebih lanjut, para aktivis telah menggunakan seni kreatif dengan cara-cara inovatif untuk mengatasi keberlanjutan dan menarik perhatian pada krisis iklim yang mendesak. Menggabungkan contoh-contoh dari Australia dan Indonesia, panel ini akan membahas bagaimana memastikan perencanaan pengelolaan lingkungan, penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, dan masa depan iklim memasukkan keprihatinan dan kebutuhan kelompok yang lebih rentan dan sering terpinggirkan, serta mengambil dari pengetahuan lokal dan adat. Panel ini juga akan menyoroti tanggapan akar rumput yang inovatif untuk meningkatkan kesadaran tentang dan mengatasi degradasi lingkungan, polusi, dan masa depan iklim.

Moderator

  • Bapak Kevin Evans (Australia-Indonesia Research Centre)
  • Dr Fina Itriyati (UGM)

Pembicara

  • Ms Ewa Wojkowska, Chief Operating Officer dan Co-Founder, Kopernik
  • Dr Lara Stevens, Peneliti di The University of Melbourne, sekaligus seniman dan aktivis
  • Bapak Gregorius Ragil Wibawanto, Pengajar dan aktivis lingkungan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada bersama dengan Professor Pam Nilan, Conjoint Professor in Sociology and Anthropology, The University of Newcastle
  • Dr Virginia Marshall, Inaugural Indigenous Postdoctoral Fellow, RegNet & Fenner School of Environment and Society, Australian National University, dan Water Expert Member, World Economic Forum
  • Dr. Yuyun Ismawati,  Senior Advisor dan Co-founder Nexus for Health, Environment, and Development Foundation
  • Dr Stibniati Atmadja, Ilmuwan, Center for International Forestry Research (CIFOR), Forest, Climate Change and Livelihood Interactions in Tropical Countries

Panel 4

Lahan Pertanian Berkelanjutan

Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang krisis iklim dan keanekaragaman hayati, agenda untuk mempromosikan pengelolaan hutan, sumber daya alam, serta lahan pertanian yang lebih berkelanjutan terus meningkat di berbagai belahan dunia. Baik di Australia maupun Indonesia, urgensi agenda-agenda tersebut diperkuat oleh kepemilikan kedua negara atas ekosistem unik yang amat penting bagi masa depan bumi, serta oleh risiko akut yang ditimbulkan pada ekosistem ini oleh model produksi pertanian yang memprioritaskan tujuan ekonomi atau pembangunan yang berseberangan dengan agenda konservasi. Dengan latar belakang ini, aktor-aktor pemerintah dan sektor swasta bekerja keras untuk mengembangkan pendekatan baru yang inovatif dan berorientasi pada transisi ke lahan pertanian yang lebih berkelanjutan. Sementara agenda-agenda tersebut didukung oleh pemerintah dan pelaku pasar yang kuat, mereka juga menghadapi berbagai tantangan signifikan, karena mereka berjuang untuk mengatasi tekanan yang saling bertentangan dari bidang ekonomi dan kebijakan – terkait perdebatan yang lebih luas tentang ketahanan pangan dan perubahan penggunaan bahan bakar nabati (biofuels). Panel ini akan mengumpulkan para ahli dari Australia dan Indonesia untuk berbagi ilmu dan pandangan tentang pendekatan baru yang menjanjikan dalam melaksanakan tugas yang menantang dan mendesak untuk mendukung pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Moderator

  • Associate Professor Kate Macdonald (UoM)
  • Dr Bahruddin (UGM)

Pembicara

  • Associate Professor Brendan Cullen, Sustainable Agriculture (Pasture and Grazing Systems), The University of Melbourne
  • Profesor Arya Hadi Dharmawan, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University
  • Ibu Serenity Hill, Direktur Open Food Network Australia
  • Bapak Olivier Tichit, Director of Sustainability, P. T. Musim Mas
  • Bapak Norman Jiwan, Anggota Supervisory Board, Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia
  • Ibu Gita Syahrani, Direktur Eksekutif Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)

Panel 5

Kota yang Berkelanjutan dan Inisiatif Lokal/ Regional

Menciptakan Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan adalah salah satu dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuan ini melibatkan berbagai rencana rekayasa untuk mengurangi dampak lingkungan dari kota dan permukiman melalui perencanaan dan pengelolaan kota. Meskipun demikian, terdapat banyak tantangan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk menjadi sebuah kota yang berkelanjutan dalam konteks perubahan iklim dibutuhkan perhatian lebih terhadap berbagai isu seperti populasi perkotaan yang terus bertumbuh, membangun perumahan berkelanjutan dan mengelola panas perkotaan, transportasi, dan persediaan air. Panel ini akan mendiskusikan lebih lanjut mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat kota dalam rangka mencapai keberlanjutan. Para narasumber akan memberikan contoh inisiatif yang telah diterapkan untuk menjadikan kota lebih berkelanjutan. Selain itu, narasumber juga akan memaparkan masalah-masalah yang merupakan tantangan bersama bagi Australia dan Indonesia, seperti meningkatnya kepadatan dan perluasan kota di samping meningkatnya ancaman perubahan iklim, seperti kebakaran hutan dan banjir akibat cuaca ekstrem.

Moderator

  • Professor Kate McGregor (UoM)
  • Dr Amanda Achmadi (UoM)

Pembicara

  • Bapak Ridwan Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat, Republik Indonesia
  • Profesor Alexander FelsonElisabeth Murdoch Chair of Landscape Architecture, The University of Melbourne
  • Dr Dwinanti Rika Marthanty, Pengajar senior dan peneliti di Departemen Teknik Sipil, Universitas Indonesia
  • Profesor Alan March, Professor in Urban Planning, The University of Melbourne
  • Ibu Joanna Kormas, Manager Statutory Policy for Planning Systems Reform, Victorian Department of Environment, Land, Water and Planning
  • Dr Miya Irawati, Research Associate, Urban-Rural Systems (URS) dan Future Cities Lab (FCL), ETH Zurich